Legenda Asal Mula Nama Daerah Depok Tanjungkerta
Created By : Sri Sulastri
Dahulu kala ketika zaman penjajahan Belanda, daerah ini sering di datangi oleh orang-orang Belanda, mereka berdiam diri di daerah ini bahkan mereka telah mendirikan sebuah padepokan yang di jadikan markas besarnya. Meraka mejadikan padepokan tersebut sebagai tempat berkumpul (rapat), para anggota pemerintahan Belanda. Setelah sekian lamanya mereka berdiam diri di padepokan tersebut, akhirnya mereka kembali ke negaranya.
Maka masyarakat yang tinggal di daerah itu pun, menggunakan padepokan yang didirikan oleh Belanda sebagai tempat berkumpulnya para alim ulama dan tokoh masyarakat. Mereka juga sering mengadakan perkumpulan-perkumpulan seperti yang dilakukan oleh orang-orang Belanda untuk membahas berbagai macam permasalahan yang di hadapi mereka. Hingga akhirnya tercetuslah suatu kesepakatan, bahwa mereka akan menjadikan padepokan tersebut sebagai tempat untuk menuntut ilmu bagi masyarakat khususnya bagi para kaum muda.
Maka masyarakatpun menyetujui hal tersebut dan sejak saat itu masyarakat menggunakan padepokan tersebut sebagai tempat menuntut ilmu seperti mengaji, beribadah, dan sebagai tempat pembelajaran seperti sekolah pada umumnya. Tak lama padepokan itu digunakan, perlahan para alim ulamapun meninggal, sehingga sedikit generasi yang meneruskan jejaknya. Maka dari itu, padepokan ini mulai terasa padam, tak ada yang mengelola.
Karena adanya kebiasaan masyarakat yang memanggil padepokan ini dengan sebutan Depok, maka sampai sekarang daerah ini dinamakan daerah Depok.
MITOS
Di Daerah Depok Tanjungkerta
Disebuah desa tepatnya di Sumedang,Depok Tanjungkerta, ada sebuah hutan yang tinggi masih berdiri kokoh sampai sekarang, dan hutan itu bernam “ Pasir Tuhureun”.
Konon katanya, di hutan itu sering terdengar suara ‘Gong’ yang di pukul setiap malam. Entah darimana asalnya gong itu, masyarakat sekitarpun tidak mengetahuinya. Katanya setiap malam Jum’at suara gong tersebut sering terdengar dengan diiringi alunan music lainya, seperti gamelan,dan lain-lain.
Sekitar tahun 2006-an, ada seorang kakek yang tidak terlalu tua datang ke hutan itu, dengan niat untuk memindahkan suara-suara yang menimbulkan kegelisahan dan ketakutan masyarakat sekitar. Namun, sampai saat ini tidak ada yang mengetahui kemana suara aneh itu di pindahkan.
Selain adanya suara tabuhan gong tersebut, juga terdapat kabar adanya “ Lawang Qori “, seperti itulah masyarakat sekitar memanggilnya. Menurut kabar yang terdengar, lawang qori ini semacam lubang yang tidak terlalu kecil ( hamper mirif dengan lubang gua ) dengan pintunya berupa tumpukan batu-batu, apabila ada orang yang masuk ke dalamnya, maka ia tidak akan pernah bisa kembali.
DONGENG
Sang Kakek dan Sang Ular
Dahulu kala terkisahkan seorang kakek yang hidup dengan istrinya, beliau adalah seorang tokoh masyarakat di daerah Depok. Suatu hari kakek tersebut pergi kesebuah hutan dekat dengan daerah tempat ia tinggal, ia pergi sendiri untuk mencari kayu bakar, berkeliling kesana-kemari. Hebatnya, tak tersirat sedikitpun rasa takut di benaknya. Katanya “ saya sudah terbiasa pergi sendiri ke hutan ini “, yah seperti itulah ujarnya.
Namun, suatu ketika ada suatu kejadian yang tak terduga, ketika ia sedang asyik mengumpulkan kayu bakar, ia melihat seekor ular kobra terdampar di sampingnya, sehingga ia pun terkejut melihatnya. Ia mencoba menghindar dari ular itu, namun apa daya seorang kakek. Ular terus mengikutinya, hingga akhirnya, langkah sang kakekpun terhenti di suatu pohon yang besar mengahalangi langkahnya.
“ wahai sang kakek, tolonglah aku…”
Sang kakek terkejut mendengar suara seorang wanita meminta tolong kepadanya. Ia melirik kesana kemari, tengok sana-tengok sini, mencari sumber suara tersebut.
“ wahai kakek, akulah yang kamu cari. Sesosok ular kobra hitam yang ada di hadapanmu”
Belum sempat sang kakek menghela nafas, ia dikejutkan kembali oleh ular di hadapanya.
“ hei ular, benarkah engkau yang berbicara itu? Aku sungguh tak percaya! Siapa kamu sebenarnya?”
“ ya, benar sekali. Akulah yang berbicara kapadamu. . . aku sebenarnya adalah seorang wanita yang mendapat kutukan. Karena aku telah melanggar janjiku pada syaiton. Tolong,bantu aku untuk kembali pada wujud semulaku!” ujar sang ular
“ maksudmu?apa kamu telah bersekutu dengan syaiton?”
“ya, aku menyesal sekarang. Kenapa dulu aku rela mengorbankan orang-orang untuk menjadi tumbalnya hanya untuk kekayaanku. Aku sangat menyesal.” Dengan isak tangis sang ular.
“tolong, aku yakin kamulah yang bisa mengembalikan ku pada wujud asliku kakek.” Lanjutnya
Sang kakekpun terdiam, memikirkan apa yang harus ia perbuat. Ia tampak kebingungan.
“ wahai kau ular, apa sekiranya yang dapat saya lakukan untuk membantumu?”
“ tolong bawalah aku pulang bersama mu, izinkan aku untuk tinggal bersama mu.”
“ aku takut kau akan menimbulkan keresahan pada warga. Warga sekitarku sangat membenci ular. Bagaimana kalau mereka tahu, apalagi kamu kan seekor ular jkadi-jadian.”
Sang ularpun terdiam, terdengar isak tangisnya, melukiskan betapa lukanya hatinya.
Sang kakekpun tak tega melihat semua itu, maka sang kakek pulang dengan membawa hasil pencarian kayu bakar itu dengan diikat oleh ular jelmaan seorang gadis tersebut.

About these ads